Arsip Tag: musik

Nafisah Tereliminasi dari X Factor Indonesia, Raih Voting Terendah

JAKARTA – Nafisah Alayyah tersingkir dari X Factor Indonesia Season 4. Pada babak ke-5 live gala show yang digelar Senin 12 Februari 2024, ia mendapat suara terendah usai menunjukkan penampilan terbaiknya di hadapan para juri.

Membawakan lagu Dalan Liyane, Nafisah gagal memukau juri X Factor Indonesia dan penonton sehingga membuatnya ditempatkan di posisi terbawah. Kontestan yang dipandu oleh Ello berada di posisi bawah bersama Princessa Alicia dan TAV.

Berkaca dari penampilannya, Nafisah mendapat kritikan dari Maia Estianty dan Vidi Aldiano. Maia merasa penampilan Nafisah tidak terlalu kuat dalam banyak hal.

Senada dengan Maia, Vidi menilai hal itu ada kaitannya dengan daya tahan Nafisah yang menurutnya tidak cukup kuat hingga mempengaruhi kemampuannya dalam menyanyi.

“Suaramu mewakili anak masa kini. Oke, karakter vokalmu kekinian banget, tapi kekuatanmu di awal dan di akhir sangat goyah,” kata Maia.

Dengan keluarnya Nafisah, Ello kehilangan salah satu muridnya. Sehingga kini hanya tersisa satu peserta yakni Tigor Sihombing.

Sekadar informasi, X Factor Indonesia Season 4 menantang kontestan yang masuk Top 10 untuk duduk di panggung 5 live gala show yang membawakan lagu-lagu hits dangdut Tanah Air.

Para kontestan harus membawakan lagu dangdut koplo klasik versi terbaiknya. Dengan kekalahan Nafisah, tersisa 9 kontestan yang melanjutkan pertarungannya di X Factor Indonesia Season 4.

Mereka adalah Jetje Margaretha, Kris Tomahu, TAV, Peter Holly, Zibran, Tigor Sihombing, Princessa Alicia, Marisa dan Asmaralaya. Mereka yang terpilih harus berjuang mempertahankan posisinya untuk melaju ke babak selanjutnya.

Ilmuwan Ungkap Lagu Sedih Dirasakan di Dada dan Lagu Bahagia di Kaki

JAKARTA – Para ilmuwan berhasil membuat peta tubuh berdasarkan reaksi terhadap berbagai lagu. Kartu ini antara lain menampilkan lagu sedih yang terasa di dada dan lagu bahagia yang terasa di jari kaki.

“Sekarang lagu-lagu agresif bikin kita jadi kepanasan,” kata peneliti di Turku PET Center di Finlandia, Vesa Putkinen, seperti dilansir Daily Mail, Kamis (1/2/2024).

Penelitian tersebut didasarkan pada pengalaman unik orang-orang yang mengalami sensasi berbeda dalam genre lagu berbeda. Baik itu lagu cinta yang pelan atau lagu dance yang gembira, semuanya membangkitkan emosi unik dalam diri setiap orang.

Vesa Putkinen menjelaskan, pengaruh musik terhadap tubuh manusia bersifat universal. Oleh karena itu, ketika orang-orang dari budaya berbeda mendengar lagu favoritnya, mereka harus berpindah. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan mengenai musik, hanya sedikit yang meneliti bagaimana musik membangkitkan sensasi fisik di berbagai budaya.

Tim tersebut melibatkan 2.000 peserta dalam penelitian terbaru. Separuhnya berasal dari Eropa atau Amerika Utara dan separuhnya lagi dari Tiongkok. Peserta diperlihatkan siluet tubuh manusia dan diminta menunjukkan bagian tubuh mana yang menurut mereka akan diaktifkan sebagai respons terhadap gaya musik yang berbeda.

Hasilnya menunjukkan bahwa gaya musik yang berbeda membangkitkan sensasi tubuh yang sangat berbeda. Lagu sedih atau lembut lebih terasa di kepala, dada, dan pusar, sedangkan lagu seram atau agresif lebih terasa di kepala.

Sementara itu, nyanyian gembira menari terdengar di kepala dan di kaki. Para peneliti juga menemukan bahwa emosi dan sensasi fisik yang ditimbulkan oleh musik serupa antara pendengar di Barat dan Asia. “Faktanya, ciri-ciri akustik tertentu dalam musik dikaitkan dengan emosi serupa baik pada pendengar di Barat maupun di Asia,” kata Profesor Laurie Nmenmaa, salah satu penulis studi tersebut.

Musik dengan irama yang jelas dianggap membahagiakan dan menarik, sedangkan disonansi dalam musik dikaitkan dengan agresivitas. “Karena sensasi yang dirasakan serupa antar budaya, emosi yang ditimbulkan oleh musik kemungkinan besar tidak bergantung pada budaya dan pembelajaran serta didasarkan pada mekanisme biologis yang diwariskan,” katanya.

Menurut para peneliti, hasil penelitian menunjukkan bahwa musik mungkin muncul sebagai sarana untuk meningkatkan interaksi sosial. “Orang-orang beralih ke musik di semua budaya, dan sinkronisasi postur, gerakan, dan vokalisasi adalah tanda-tanda universal dari rasa memiliki,” kata Dr. Putkinen.

Musik mungkin muncul selama evolusi spesies manusia untuk meningkatkan interaksi sosial dan rasa kebersamaan dengan menyinkronkan tubuh dan emosi pendengarnya.