Arsip Tag: IKA UNJ

Hari Guru 2023: IKA UNJ & Dompet Dhuafa Adakan Edu Action Fest 

Hendelforex, JAKARTA – Ikatan Alumni (IKA) UNJ bersama Dompet Dufa menggelar Edu Action Fest 2023 di Gedung Ki Hadjar Dewantara Universitas Negeri Jakarta.

Acara ini merupakan bagian dari Hari Kasih Guru 2023.

Baca juga: IKA UNJ Salurkan Santunan kepada Fakir Miskin dan Anak Yatim Piatu

Wakil Ketua IKA UNJ Dr. Uswadeen menyampaikan, acara ini akan dibagi menjadi lima acara.

Antara lain talkshow, Connie Semivan Award for Heroes of Education, penyerahan buku, sosialisasi kartu wisuda, dan pemberian penghargaan fakultas.

Baca juga: Yuri Ardiantoro Terpilih Kembali Menjadi Ketua Pengurus IKA UNJ Tahun 2021-2024.

Menurut Usvadeen, IKA UNJ memperingati Hari Guru Tahun 2023 dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Pendidikan kepada mendiang guru besar tersebut. Dokter. Connie Semivan.

“Beliau adalah guru nasional. Saya berharap Prof Coney bisa menjadi pahlawan nasional karena kebajikannya,” ujarnya, Jumat (24/11).

Baca Juga: Catatan Akhir Tahun IKA UNJ: Wajib Belajar Melindungi Kesehatan dan Hak Siswa.

Sementara itu, General Manager Pendidikan Dompet Dhufa Rena Fatima melihat acara tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan program guru dan mengembangkan teknologi pendidikan yang ada. Dalam rangka Hari Guru tahun ini, Rina berharap para guru bisa mengikuti perkembangan teknologi saat ini.

Namun teknologi pendidikan tidak bisa menggantikan peran guru baginya.

“Kita tahu teknologi saat ini sudah maju, tapi jangan lupa bahwa guru mempunyai kepribadian dan karakter. “Apa pun yang terjadi, jangan sampai kepribadianmu sebagai guru berkurang,” pesannya.

Dalam diskusi yang sama, Rektor UNJ Komaruddin menghimbau para guru untuk lebih kreatif dalam mengajar.

Bagi Komaruddin, sepengetahuannya, perilaku guru semakin menurun.

“Kebanyakan peniru tidak terlalu kreatif, saya menulis skripsi dan mendapat guru sekolah yang bagus dan masih seperti itu,” ujarnya.

Ia juga mengkritik besarnya bonus guru di kota-kota seperti Jakarta.

Menurut Komaruddin, tunjangan tersebut seharusnya diperuntukkan bagi pengembangan kompetensi profesional guru dan keterampilan mengajar dan tidak diberikan secara instan.

Meski demikian, Komaruddin tetap yakin bahwa teknologi tidak akan menggantikan guru.

Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi, penting bagi guru untuk terus berinovasi.

“Saya yakin tidak akan tergantikan. Lihat saja Ocba di Kerman, Jepang. Benar-benar diganti? Boleh saja untuk pekerjaan teknis, tapi bukan pekerjaan yang menyentuh manusia,” ucapnya.

Menurut Rektor Teknologi Pendidikan UNJ Profesor Robinson Situmorang, harapannya guru mampu menyikapi kemajuan teknologi yang ada.

Bagi guru untuk mengintegrasikan teknologi ini ke dalam proses dan tujuan pembelajaran.

Ketua program penelitian teknologi pendidikan UNJ juga mendorong pemerintah untuk membuat desain pembelajaran yang dapat membentuk kurikulum.

Karena baginya para guru dan calon guru telah belajar bagaimana merencanakan pengajaran agar dapat terlaksana secara efisien dan efektif.

“Jadi saya berharap pendidikan desain menjadi mata pelajaran wajib bagi para guru. Tinggal bisa berinovasi seputar kurikulum,” ujarnya.

Sementara itu, CEO Scola EdTech Devlin Hazrian Saleh menegaskan bahwa teknologi pendidikan bukan hanya sekedar pembelajaran.

Selain itu, Devlin juga memperhatikan ketersediaan alat pengajaran.

“Kesempatan pendidikan terbatas dalam konteks krisis pendidikan. Sulit bagi sekolah untuk mengetahui potensi dan kesesuaian siswa, guru,” kata Devlin.

Baginya, pendidikan bukan hanya untuk siswa dan guru. Menurut Devlin, keberhasilan proses pendidikan bergantung pada tiga faktor: siswa, guru, dan orang tua.

Agung Pardini, seorang aktivis pendidikan, menyadari bahwa teknologi pendidikan harus beradaptasi dengan lingkungan tempat pendidikan diselenggarakan. Penting baginya untuk mengutamakan kearifan lokal dalam pendidikan. (esy/jpnn)

Baca artikel lainnya… Dompet Dufa dan Bolu Nusaras menebar kebaikan.