Arsip Tag: Budi Gunadi Sadikin

Menkes Budi Gunadi Dorong Upaya Promotif dan Preventif Dalam Promosi Kesehatan Masyarakat

Hendelforex, Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan pentingnya memahami program promosi kesehatan di Indonesia. Pemahaman ini mulai dari petugas kesehatan hingga seluruh lapisan masyarakat.

Menteri Kesehatan Budi mengatakan fokus pendekatan tersebut tidak hanya pada pengobatan penyakit, tetapi juga pemeliharaan kesehatan secara umum. Masyarakat diharapkan lebih proaktif dalam menjaga kesehatan guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

“Tugas kesehatan bukan hanya mengobati orang yang sakit, tetapi menjaga agar masyarakat tetap sehat. “Jadi cara pandangnya harus mendorong masyarakat untuk sehat dengan melakukan upaya promosi dan pencegahan kesehatan,” kata Budi dalam acara town hall CIMSA bersama Kementerian Kesehatan di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Jumat (23/02/2024). .

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang digagas dan digalakkan oleh Kementerian Kesehatan bertujuan untuk memperkenalkan budaya hidup sehat pada masyarakat. Menurut Menteri Kesehatan Budi, pembentukan GERMAS bisa ikut serta dalam kegiatan seperti hari bebas kendaraan bermotor (car-free day) yang sangat digandrungi warga.

Karena penerapan GERMAS merupakan suatu gerakan dan bukan sekedar kemajuan, maka sebaiknya dilakukan pendekatan yang komprehensif dan tidak eksklusif. Oleh karena itu, diharapkan mampu melaksanakan promosi kesehatan, memberdayakan seluruh masyarakat yang mempunyai keinginan untuk menjalani pola hidup sehat.

Artinya tidak ada program, tidak ada uang, dan masyarakat melakukannya karena mau, atau karena suka demi hidup sehat, tambah Menkes Budi.

Mendorong upaya promosi dan pencegahan, Kementerian Kesehatan telah melakukan reformasi di bidang kesehatan melalui amandemen Undang-Undang Kesehatan dan Transformasi Kesehatan.

Selain itu, Kementerian Kesehatan membagi anggaran secara merata antara upaya promosi pencegahan dan kuratif, masing-masing 50:50. Upaya ini tidak hanya difokuskan pada rumah sakit, namun juga pada puskesmas dan posyandu yang salah satunya sedang menjalani revitalisasi untuk memperbaikinya.

Menteri Kesehatan Budi mengatakan upaya peningkatan akses layanan kesehatan akan digencarkan hingga mencapai tingkat desa. Diketahui, dari total 512 kabupaten/kota, terdapat sekitar 10.000 kecamatan/kelurahan, 85.000 kota, dan 300.000 desa.

Salah satu strategi yang akan diterapkan adalah peningkatan kapasitas kader posyandu untuk berperan penting dalam penyediaan layanan kesehatan di tingkat masyarakat setempat.

“Seluruh kader Posyandu akan diberdayakan sebagai dokter sehingga Posyandu dapat merawat atau memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak serta seluruh keperluan siklus hidup,” jelasnya.

Mulai tahun ini, 4 kader posyandu dari masing-masing desa atau total 1,2 juta kader posyandu akan dididik kembali untuk memperoleh keterampilan dan kemampuan khusus seperti penimbangan bayi dan anak yang benar, pendidikan ASI eksklusif dan MPASI, vaksinasi dan komunikasi. interpersonal atau konseling.

“1,2 juta kader akan dilatih kembali dan dimasukkan ke dalam sistem yang diawali dengan tes terlebih dahulu, kemudian setelah selesai akan mendapat sertifikat,” kata Budi.

Begitu pula dengan Posyandu yang dapat melakukan tindakan promotif dan preventif mulai dari ibu hamil, bayi, anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia. Pemeriksaan kesehatan juga dapat dilakukan di posyandu, seperti pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah untuk deteksi dini penyakit.

Kemenkes RI Luncurkan Gerakan Perubahan Budaya Kerja dan Rebranding Identitas

Hendelforex, Jakarta – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) telah melaksanakan transformasi kesehatan melalui enam pilar transformasi kesehatan sejak tahun 2021. Salah satu capaian transformasi tersebut adalah ditemukannya kasus tuberkulosis (TB).

Transformasi tersebut didukung oleh upaya transformasi organisasi dan budaya kerja yang dilakukan Departemen Transformasi Internal sejak awal tahun 2022. Tujuan utama Departemen Transformasi Internal adalah mengubah budaya kerja sehingga terjadi transformasi kesehatan. dapat berlangsung secara berkelanjutan. .

Kementerian Kesehatan juga akan melanjutkan transformasi organisasi dan budaya kerja tersebut pada tahun 2024, dengan dimulainya masa percepatan transformasi internal melalui sembilan program percepatan. Salah satu dari sembilan program tersebut adalah program perubahan budaya kerja dan transformasi jati diri Kementerian Kesehatan yang diluncurkan di kantor Kementerian Kesehatan pada Senin, 19 Februari 2024.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan transformasi organisasi dan budaya kerja merupakan bagian dari transformasi pelayanan kesehatan yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas Kementerian Kesehatan. Menurutnya, perubahan budaya kerja sangat penting untuk mendukung implementasi transformasi layanan kesehatan.

“Untuk dapat mengubah kualitas manusia, perlu dibangun sistem kebudayaan yang besar, canggih, kuat. Cita-cita kita tidak mungkin tercapai, Indonesia maju, Indonesia sehat. , Sabtu, 24 Februari, 2024.

Menteri Budi menjelaskan, mengubah budaya kerja membutuhkan waktu yang lama dan tidak mudah. Upaya mengajarkan budaya baru harus mencakup lebih dari sekedar informasi, tetapi juga harus meningkatkan keinginan dan semangat pegawai Kementerian Kesehatan.

Selain itu, budaya kerja yang baik juga harus diteladani oleh para leluhur dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menyatakan, “Sebagai orang tua, kita memberikan contoh kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Jadi guru adalah orang tua atau atasan.”

Menteri Kesehatan Budi juga menekankan pentingnya ritual dalam membangun budaya kerja yang efektif. Ia menekankan pentingnya ritual dalam pertemuan dan komunikasi di Kementerian Kesehatan untuk membangun budaya yang diinginkan.

Pada saat yang sama, ia juga menyoroti logo baru Kementerian Kesehatan yang memiliki konsep lebih modern, yang merupakan bagian dari upaya menyatukan jati diri seluruh pegawai Kementerian Kesehatan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Kunta Wibawa menambahkan, tujuan dimulainya gerakan perubahan budaya kerja dan transformasi identitas Kementerian Kesehatan adalah untuk mendorong terciptanya sistem yang lebih efisien, efektif, inovatif, kolaboratif dan berorientasi pada layanan. – budaya kerja yang berorientasi. Reformasi birokrasi di Kementerian Kesehatan, termasuk transformasi organisasi dan budaya kerja, bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Kemenkes RI Gandeng ERIA untuk Riset agar Masyarakat Indonesia Berumur Panjang

Hendelforex, Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menandatangani nota kesepahaman dengan ASEAN dan East Asian Economic Research Institute (ERIA) di kantor ERIA di Senayan, Jakarta pada Selasa, Februari. 20.

ERIA merupakan organisasi internasional yang didirikan pada tahun 2008 di Jakarta berdasarkan kesepakatan formal antara para pemimpin 16 negara ASEAN dan Asia Timur. Tujuan ERIA adalah melakukan penelitian dan memberikan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan integrasi ekonomi Asia Timur.

Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan hasil kerja sama Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadik dengan Presiden ERIA Profesor Tetsuya Watanabe saat kunjungan Menteri Kesehatan G7 ke Nagasaki, Jepang tahun lalu. .

Nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan dan ERIA mencakup rencana kerja sama di bidang pelayanan kesehatan primer, pelayanan kesehatan sekunder, keahlian pelayanan kesehatan, ketahanan kesehatan, pembiayaan pelayanan kesehatan dan teknologi kesehatan. Bentuk kerjasama yang disepakati meliputi bantuan teknis, pelatihan, penelitian bersama dan pertukaran informasi dan pengetahuan.

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan Budi menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat membawa manfaat positif bagi kedua belah pihak, baik di bidang kedokteran, pengobatan, maupun penelitian lainnya. Menteri Kesehatan Budi mengungkapkan, ada dua hal yang diinginkannya dari kerja sama ini.

Pertama, teliti cara menua dengan sehat. “Saya ingin mempelajari ilmu penuaan dari segi keseimbangan hormonal, pengurutan genom, bukan penelitian yang sudah pernah dilakukan,” ujarnya.

Kedua, penelitian tentang cara paling efektif untuk berumur panjang. Menkes Budi menambahkan, Saya ingin bisa mengambil kebijakan berdasarkan pengetahuan, kebiasaan atau rahasia agar kita bisa panjang umur dan sehat.

Saat ini Kementerian Kesehatan, ERIA dan Lembaga Penelitian dan Pendidikan Kedokteran Indonesia (IMERI) Universitas Indonesia sedang berkolaborasi dalam pelaksanaan penelitian seumur hidup pada penduduk Indonesia: gizi dan status kesehatan, konsumsi makanan, karakteristik gaya hidup dan kualitas hidup. Dari Gili Liang dan Midwana. Investigasi ini dimulai pada akhir tahun lalu dan akan berlanjut tahun ini.

Perwakilan Kementerian Kesehatan, ERIA dan IMERI FKUI menghadiri acara penandatanganan MoU yang dipandu oleh Lisa Munira, Direktur Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Syarife, dan Koji Hachiyama, Chief Operating Officer ERIA.

Kenji Shibuya, CEO Medical Excellence Jepang, menjelaskan tentang Medical Excellence (MExx), sebuah platform kemitraan publik-swasta baru yang dikembangkan bersama ERIA untuk meningkatkan kolaborasi layanan kesehatan antara pemerintah dan sektor swasta.

Menkes Budi Bicara Upaya Indonesia Eliminasi TB di Forum Internasional

Hendelforex, Jakarta – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin berbagi pengalaman Indonesia dalam upaya pemberantasan tuberkulosis (TB) saat menghadiri ‘Stop TB Partnership (STP) Board Meeting’ ke-37 di Brasilia, Brasil. Indonesia, negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia, telah mengambil langkah-langkah untuk memberantas TBC dan telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam setahun terakhir.

Pada tahun 2022, jumlah kasus tuberkulosis yang terdaftar atau terdeteksi di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan yaitu mencapai 700 ribu kasus dan 800 ribu kasus pada tahun 2023. “Sebelum Indonesia mampu mendeteksi hanya 400 hingga 500 ribu kasus tuberkulosis, saat mewabahnya COVID-19 angkanya turun menjadi sekitar 300 ribu,” kata Menteri Kesehatan Budi dikutip dari Sehtnegeriku pada Minggu, 11 Februari 2024, siang.

Menteri Kesehatan Budi menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus meningkatkan jumlah kasus yang dilaporkan dengan target mencapai 9 juta dari 1 juta penderita TBC pada tahun 2024. Serta penerapan inovasi finansial untuk layanan TBC,” imbuhnya.

Menurut Budi Gunadi Sadikin, kerja keras, ketekunan dan kemauan belajar serta pengorbanan membuktikan bahwa pemberantasan TBC secara global bukanlah hal yang mustahil, namun keberhasilan di masa depan yang dapat dicapai bersama. Ia menegaskan, pemberantasan TBC akan berdampak positif terhadap pembangunan ekonomi Indonesia.

Pemerintah juga telah melakukan beberapa upaya untuk memberantas TBC, termasuk bekerja sama dengan masyarakat dan petugas kesehatan untuk melakukan skrining terhadap 2,2 juta orang yang berisiko tinggi terkena TBC.

Selain itu, Indonesia mendorong inovasi diagnosis TBC dengan memproduksi lima alat deteksi TBC berbasis PCR yang sudah dapat digunakan oleh 1.000 laboratorium PCR di Indonesia. Upaya lainnya dilakukan oleh Biomedical and Genomic Sciences Initiative (BGSi) yang bertujuan untuk meningkatkan surveilans TB dengan pengurutan genom pada sampel TB MDR.

Indonesia juga memastikan bahwa pengobatan TBC dapat diakses oleh semua orang dengan memperkenalkan rejimen oral jangka pendek untuk TBC yang resistan terhadap obat (TB RO), yang membantu mengurangi durasi pengobatan menjadi enam bulan.

Tidak hanya di tingkat nasional, komitmen Indonesia juga terlihat di tingkat global, dimana Indonesia bersama Nigeria, Filipina, dan Polandia telah mempelopori koalisi negara-negara untuk memerangi tuberkulosis. “Saya yakin bersama-sama kita bisa memenangkan perang melawan TBC,” kata Menteri Kesehatan Budi.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budhi menegaskan pemberian vaksin tuberkulosis (TB) baru harus dipercepat. Budi mengatakan vaksin TBC dapat menjadi solusi hemat biaya dan berguna untuk mengurangi biaya layanan kesehatan dan mengurangi dampak ekonomi dari berkurangnya produktivitas masyarakat.

Dalam upaya pemberantasan tuberkulosis pada tahun 2030, Indonesia hanya memiliki waktu tiga tahun untuk mengembangkan vaksin tuberkulosis yang dapat digunakan mulai tahun 2028, kata menteri. kesehatan yang baik

Sebagai anggota Dewan Negara Terkena Tuberkulosis, Menteri Kesehatan Budi juga mengusulkan kepada negara-negara anggota G20 untuk melakukan investasi yang cukup untuk menjamin ketersediaan vaksin tuberkulosis baru dalam tiga tahun ke depan.

Saat ini, satu-satunya vaksin TBC yang tersedia adalah vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG), yang memberikan perlindungan parsial untuk bayi dan anak usia dini. Namun perlindungan ini tidak cukup untuk mencegah tuberkulosis pada anak-anak dan orang dewasa.

Pengembangan vaksin TBC yang efektif untuk semua kelompok umur sangat diperlukan untuk mencapai penurunan kematian akibat TBC sebesar 90% dan 95%. Selain itu, vaksin TBC juga berpotensi mencegah penyebaran TBC yang resistan terhadap obat.

Tuberkulosis yang resistan terhadap obat adalah suatu bentuk tuberkulosis yang tidak merespons pengobatan standar yang biasanya efektif untuk mengobati infeksi tuberkulosis.

Demi Eliminasi TB 2030, Menkes Budi Gunadi Sadikin Dorong Percepatan Pengembangan Vaksin Tuberkulosis Baru

Hendelforex, Jakarta – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya percepatan pemberian vaksin baru terhadap tuberkulosis (TB). Menurutnya, vaksin tuberkulosis dapat menjadi solusi yang hemat biaya dan bermanfaat untuk mengurangi dampak ekonomi dari biaya layanan kesehatan dan hilangnya produktivitas masyarakat.

Lebih lanjut Budi mengatakan, untuk menghilangkan TBC pada tahun 2030, Indonesia hanya memiliki waktu tiga tahun untuk mengembangkan vaksin TBC yang akan tersedia mulai tahun 2028.

“Pengembangan vaksin harus dilakukan secara hati-hati,” kata Menteri Kesehatan Budi saat Rapat Dewan Kemitraan Tuberkulosis (STP) ke-37 di Brasilia, Brazil pada Minggu, 11 Februari 2024 seperti dikutip Sehat Negeriku.

Sebagai anggota dewan yang berasal dari negara terdampak TBC, Menteri Kesehatan Budi juga menyarankan agar anggota G20 menginvestasikan sumber daya yang cukup untuk memastikan ketersediaan vaksin TBC baru selama tiga tahun ke depan.

Satu-satunya vaksin yang tersedia saat ini untuk melawan tuberkulosis adalah vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG), yang memberikan perlindungan parsial pada bayi dan anak usia dini. Namun perlindungan ini tidak cukup untuk mencegah TBC pada anak-anak dan orang dewasa.

Pengembangan vaksin TBC yang efektif untuk semua kelompok umur sangat penting untuk mencapai penurunan kasus TBC sebesar 90% dan penurunan angka kematian TBC sebesar 95%. Selain itu, vaksin TBC juga dapat mencegah penyebaran TBC yang resistan terhadap obat.

TBC yang resistan terhadap obat adalah jenis TBC yang tidak merespons pengobatan standar yang umumnya efektif dalam mengobati infeksi TBC.

Beberapa vaksin anti-TB saat ini sedang dikembangkan dan berpotensi mencegah TB pada berbagai kelompok umur, menggantikan atau meningkatkan vaksinasi BCG, mencegah kekambuhan pada pasien yang telah menyelesaikan pengobatan, atau memperpendek durasi pengobatan.

Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam tiga uji klinis calon vaksin tuberkulosis. Ini termasuk vaksin yang dikembangkan oleh Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) menggunakan teknologi protein rekombinan.

Selain itu, kolaborasi antara perusahaan farmasi Tiongkok CanSinoBio dan perusahaan biofarmasi Indonesia Etana telah mengembangkan vaksin yang menggunakan vektor virus.

Terakhir, ada vaksin yang dikembangkan menggunakan teknologi mRNA oleh perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech dan perusahaan farmasi Indonesia Biofarma.

“Saya yakin berkat investasi ini kita tidak hanya akan menyelamatkan nyawa manusia, namun dalam jangka panjang kita akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” kata Menkes.